Kuala Lumpur, Malaysia — (28/08/2026) Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) UIN Walisongo Semarang memperkuat kajian moderasi Islam, wasatiyyah, dan sejarah peradaban Islam melalui kolaborasi penelitian dengan International Institute of Islamic Thought and Civilisation (ISTAC), International Islamic University Malaysia (IIUM).
Penelitian ini diketuai oleh Dr. Mokh. Sya’roni, M.Ag., dengan melibatkan Thiyas Tono Taufiq, S.Th.I., M.Ag., dosen Prodi Studi Agama-Agama, Royanuloh, M.Psi.T., dosen Prodi Tasawuf dan Psikoterapi, serta Muhammad Yusuf Pratama, S.Ag., mahasiswa Prodi Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Kolaborasi akademik tersebut juga melibatkan Assoc. Prof. Dr. Nurul Ain Norman, dosen ISTAC-IIUM Malaysia.

Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran gagasan akademik antara Indonesia dan Malaysia, khususnya dalam memahami moderasi Islam melalui perspektif sejarah, pemikiran, dan peradaban. Kajian ini sekaligus memperkuat jejaring akademik internasional serta membuka peluang pengembangan riset dan publikasi bersama.
Moderasi Islam dalam Perspektif Sejarah
Kajian moderasi Islam melalui pendekatan historis penting dilakukan karena konsep wasatiyyah memiliki akar panjang dalam perkembangan pemikiran dan peradaban Islam. Moderasi tidak hanya berkaitan dengan wacana keagamaan kontemporer, tetapi juga dapat dilihat melalui pengalaman historis umat Islam dalam menghadapi keragaman pemikiran, budaya, dan perubahan sosial.
Menurut Thiyas Tono Taufiq, perspektif sejarah membantu melihat moderasi Islam secara lebih komprehensif.
“Wasatiyyah bukan sekadar posisi di tengah antara dua ekstrem, tetapi merupakan orientasi intelektual dan etis untuk membangun keseimbangan, keadilan, keterbukaan, dan kehidupan bersama,” ujarnya
Ia menambahkan bahwa sejarah peradaban Islam menunjukkan adanya dialog antara teks keagamaan, akal, tradisi, budaya, dan realitas sosial. Proses tersebut turut membentuk keragaman pemikiran Islam dan menunjukkan kemampuan tradisi intelektual Islam dalam merespons perubahan zaman.
Memperkuat Kolaborasi Riset Indonesia-Malaysia
Kolaborasi antara FUHUM UIN Walisongo Semarang dan ISTAC-IIUM diharapkan dapat memperkuat penelitian dan publikasi ilmiah internasional dalam bidang moderasi Islam, Al-Qur’an dan Hadis, sejarah pemikiran Islam, peradaban, serta kehidupan Muslim dalam masyarakat plural.
Pertemuan dengan Assoc. Prof. Dr. Nurul Ain Norman menjadi bagian penting dalam membangun dialog akademik dan mempertemukan perspektif keilmuan Indonesia dan Malaysia. Perbedaan konteks sosial kedua negara menjadi peluang untuk mengembangkan kajian komparatif mengenai pemikiran dan praktik Islam dalam masyarakat yang beragam.
Sebagai ketua tim peneliti, Dr. Mokh. Sya’roni, M.Ag., mengapresiasi soliditas tim selama proses penelitian dan kolaborasi akademik yang dilakukan.
“Saya mengapresiasi kerja sama tim yang solid dalam menjalankan penelitian ini. Kolaborasi antardosen dan mahasiswa, ditambah dengan jejaring akademik bersama ISTAC-IIUM, menjadi kekuatan penting untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas dan memiliki kontribusi lebih luas,” ungkapnya

Menurutnya, kerja sama lintas disiplin dan lintas negara memberikan kesempatan untuk memperkaya perspektif penelitian sekaligus memperkuat posisi akademik UIN Walisongo dalam jejaring keilmuan internasional.
Sementara itu, Royanulloh menilai kolaborasi internasional tidak hanya penting untuk memperluas jejaring akademik, tetapi juga untuk mempertemukan perspektif keilmuan yang berbeda.
“Kolaborasi internasional bukan sekadar memperluas jejaring akademik, tetapi juga mempertemukan perspektif dan tradisi keilmuan yang berbeda untuk menghasilkan penelitian yang lebih kuat, kontekstual, dan relevan,” jelas Royanulloh
Kerja sama tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya internasionalisasi akademik FUHUM UIN Walisongo, khususnya melalui pengembangan riset kolaboratif, publikasi ilmiah, pertukaran gagasan, dan jejaring akademik dengan institusi internasional.
Melalui kolaborasi dengan ISTAC-IIUM, FUHUM UIN Walisongo terus mendorong pengembangan kajian Islam dan studi agama yang kritis, historis, dialogis, dan berorientasi pada perdamaian. Kajian moderasi Islam diharapkan tidak berhenti pada diskursus akademik, tetapi juga memberikan kontribusi bagi penguatan harmoni sosial dan kehidupan keagamaan yang inklusif di tengah masyarakat yang semakin plural.

